Minggu, 23 April 2006

Bagian I dari Trilogi 301 Milestones

LIMA TAHUN
23 April 2000- 23 April 2005

Dimensi Mahasiswa dalam Pembangunan
(University Student in Development Process)


I. Latar Belakang

Bentuk-bentuk partisipasi mahasiswa dalam pembangunan daerah secara garis besar bisa terbagi atas dua model. Model yang pertama bisa ditemui dalam bentuk gerakan moral dalam kapasitas mahasiswa sebagai penyeimbang (agent of social control), dan model kedua adalah keterlibatan mahasiswa secara langsung (agent of change) sebagai mitra sejajar dengan komponen-komponen lain yang terlibat di dalam pembangunan yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat.
Langkah awal dari partisipasi mahasiswa dalam pembangunan adalah identifikasi peran yang bisa dijalankan oleh mahasiswa sesuai dengan kapasitas dan kapabilitasnya sebagai kaum intelektual yang menjunjung tinggi rasionalitas dan kebenaran ilmiah. Penting untuk ditekankan bahwa keterlibatan mahasiswa sebagai intelektual dalam proses pembangunan tidak boleh mengesampingkan nilai-nilai perjuangan mahasiswa.
Semua hal diatas dipandang perlu karena jiwa dan semangat mahasiswa harus senantiasa dijaga dan dilestarikan, agar selalu menjadi tumpuan bagi sebuah keseimbangan dan senantiasa menjadi harapan akan perubahan kearah yang lebih baik, sebelum pasrah dan tawakkal kepada Tuhan.

II. Sasaran

A. Arah : Mewujudkan suatu keadaan di masyarakat yang memberi tempat kepada mahasiswa untuk beraktualisasi diri dalam pembangunan

B. Sasaran : Terlibatnya mahasiswa secara langsung dengan peran yang signifikan dalam pembangunan


III.Pendekatan dan Strategi

A. Strategi Pemetaan Partisipasi

Pemetaan partisipasi ditujukan untuk mencari titik-titik temu antara persoalan-persoalan yang ada di masyarakat dengan solusi-solusi yang bisa ditawarkan oleh kaum intelektual (mahasiswa sebagai warga kampus) dengan tingkat partisipasi yang disesuaikan dengan ketentuan atau peraturan aturan-aturan formal maupun non formal yang berlaku di masayarakat.

B. Strategi Pengembangan Kapabilitas

Tingkat partisipasi dari kaum intelektual (mahasiswa sebagai warga kampus) akan sangat ditentukan oleh kompetensi yang memadai untuk terlibat dalam proses pemecahan masalah hingga ditemukannya solusi yang ilmiah dan rasional untuk masalah tersebut. Keterlibatan ini akan sangat ditentukan oleh sumber daya manusia yang dimiliki oleh kaum intelektual (mahasiswa) yang mencakup kapasitas dan kapabilitas yang memadai. Oleh karenanya, diperlukan suatu perencanaan pengembangan SDM yang berujung pada tersedianya SDM yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang siap pakai.

C. Strategi Keterpaduan Kerja

Pembangunan adalah kerja yang seharusnya melibatkan seluruh komponen masyarakat. Meski demikian, dalam pembangunan tetap diperlukan adanya sebuah sistem yang mengatur tingkat dan model partisipasi dari setiap komponen. Hal ini ditujukan agar tercapai suatu model kerja yang efektif dalam arti tidak meleset dari sasaran dan terpadu dalam arti seluruh kerja adalah suatu rangkaian yang mengarah pada sebuah visi yang lebih besar.

IV. Program Implementasi

A. Penyusunan Rencana

1. Identifikasi Masalah/Sumber daya :
a. Pemahaman terhadap nilai-nilai perjuangan mahasiswa.
b. Penciptaan kondisi aktual dunia kemahasiswaan yang mendukung segala bentuk aktivitas dan partisipasi mahasiswa dalam pembangunan.
c. Penyadaran pemerintah tentang potensi SDM dan peran serta fungsi mahasiswa dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.

2. Penyusunan rencana Jangka Panjang
a. Bentuk-bentuk partisipasi mahasiswa yang tidak terbatas pada bidang-bidang tertentu dan bersifat kontinyu.
b. Tingkat keterlibatan mahasiswa yang bisa berpengaruh secara signifikan terhadap pengambil kebijakan.
c. Kultur intelektual yang dilekatkan dalam budaya dan gaya hidup masyarakat.

3. Penyusunan Rencana Jangka Pendek
a. Pencapaian kompetensi mahasiswa yang memiliki kemampuan dan kecakapan untuk diaplikasikan secara langsung di dalam masyarakat yang sedang membangun.
b. Penyesuaian terus menerus antara strategi pelibatan serta kapabilitas mahasiswa dengan masalah-masalah aktual yang timbul di dalam masyarakat.

B. Realisasi Rencana

1. Penciptaan Kondisi

a. Forum Dialog dan Identifikasi Peran
Adanya pertemuan antara mahasiswa sebagai kaum intelektual dengan semua komponen yang memiliki peran dan keterlibatan dalam proses pembangunan.
Kesepahaman yang dihasilkan dari pertemuan tersebut akan menjadi titik awal atau dasar bagi keterlibatan mahasiswa secara langsung di dalam pembangunan.
b. Informasi dan Sosialisasi
Tersedianya informasi yang memadai dengan tingkat kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan dari masalah–masalah yang ada di masyarakat untuk diberikan umpan balik yang sesuai dari mahasiswa. Solusi tersebut kemudian disosialisasikan kepada masyarakat sehinggasekaligus solusi-solusi yang diperoleh bisa menjadi model pembelajaran yang sesuai dengan kultur yang hendak dibangun oleh mahasiswa sebagai kaum intelektual.
c. Evaluasi
Adanya evaluasi serta pengkajian hubungan antara mahasiswa, pemerintah, swasta dan masyarakat yang terfokus pada interaksi serta kerjasama yang terjadi dalam kerangka kerja pencapaian visi pembangunan.

2. Pengadaan dan pengembangan Sarana dan Prasarana Penunjang

a. Adanya sebuah Development Information Center yang bisa diakses oleh masyarakat dan memberi ruang untuk penyampaian aspirasi secara langsung dalam kerangka pencarian solusi atas masalah-masalah yang timbul di dalam masyarakat.
b. Adanya sebuah media komunitas yang bisa menjadi corong bagi mahasiswa untuk sosialisasi informasi kepada masyarakat dengan tetap mengedepankan rasionalitas dan kebenaran ilmiah.

3. Komunikasi Eksternal dan Penguatan Posisi Tawar
a. Adanya respon positif dari pemerintah, swasta dan masyarakat terhadap keterlibatan mahasiswa secara langsung dalam pembangunan.
b. Adanya publikasi yang memadai tentang hasil-hasil kerja mahasiswa untuk memperkuat posisi tawar mahasiswa.

4. Pengembangan Kapasitas dan Kapabilitas

a. Kompetensi
Adanya kompetensi dasar yang dimiliki oleh mahasiswa untuk menciptakan kondisi aktual mahasiswa yang siap secara keilmuan dan memiliki keterampilan yang kemudian menjadi potensi dasar untuk berpartisipasi di dalam pembangunan dengan tingkat keterlibatan yang disesuiakan

b. Nilai
Adanya etika yang mengatur pola sikap mahasiswa dalam rangka pencarian solusi atas masalah-masalah yang terjadi dalam proses pembangunan. Etika ini merujuk pada nilai-nilai perjuangan mahasiswa.

C. Evaluasi

Evaluasi ditujukan untuk dapat menilai keterlibatan dan tingkat partisipasi yang telah dilakukan yang kemudian menjadi dasar untuk memperbaiki kerja-kerja yang sedang dan akan dilaksanakan. Untuk itu diperlukan indikator-indikator yang jelas serta pengkajian yang memadai terhadap seluruh rangkaian kerja dan dampaknya terhadap masyarakat.

D. Folllow Up dan Rencana Alternatif

Sebagai tindak lanjut dari hasil evaluasi maka diperlukan adanya follow up dari keberhasilan pencapaian sasaran dan rencana alternatif untuk setiap kondisi yang terjadi di luar perencanaan awal.


January 3rd 2005 - April 23rd 2005
Copyright@2006 by Ahmad Rivai for the spirit carries on
Email: dr_ahmadrivai@yahoo.com

Selasa, 09 Maret 2004

Membaca Garis Tangan SULBAR

Sunday, June 11, 2006
MEMPERTANYAKAN KEMBALI PERJUANGAN PROPINSI SULAWESI BARAT
PERAHU NUH ATAU KUDA TUNGGANGAN ?

Adalah hal yang pasti dalam setiap perjuangan, pada segala zaman, dalam ruang waktu kehidupan, akan ditemukan seribu satu macam kepentingan. Kepentingan-kepentingan tersebut mungkin saja akan saling bertentangan meski tetap saja ada harapan agar kepentingan-kepentingan tersebut bisa berjalan selaras demi sebuah "kepentingan" yang lebih besar yaitu tujuan awal perjuangan.
Dalam wacana tentang sebuah ide atau gagasan, maka substansi kepentingan akan sangat bergantung pada pengide atau penggagas. Namun sejalan dengan perkembangan serta perjalanan sejarah suatu perjuangan, terlebih lagi bila dalam prosesnya dianut system terbuka, maka akan menyusul kepentingan-kepentingan lain yang akhirnya menciptakan bias dalam pencapaian tujuan awal. Mungkin saja kepentingan yang muncul belakangan bisa berjalan selaras dengan ide/gagasan awal dari sebuah perjuangan, namun sayangnya, tidak menutup kemungkinan pula, kepentingan yang baru muncul tersebut berpotensi mengorbankan sebagian dari gagasan awal -yang tidak sesuai dan ditengarai akan menjadi hambatan bagi kepentingan baru tersebut kelak di kemudian hari-.
Bila kita melihat kembali gagasan awal dari pembentukan propinsi Sulawesi Barat, maka -akan kita dapatkan tak lain dan tak bukan- tujuannya adalah pengembangan segala potensi kawasan dari eks-afdeling Mandar sehingga daerah tersebut bisa lebih berkembang, makmur, adil dan sejahtera di masa datang serta menjadikan masyarakatnya percaya diri dan bangga bisa sejajar dengan kawasan lain di Indonesia. Potensi yang terkandung di bumi Mandar tersebut baik berupa sumber-sumber alam maupun potensi Sumber daya Manusia yang secara politik dan ekonomi merupakan jumlah yang cukup signifikan (bahkan mencengangkan) di pesisir barat Sulawesi. Potensi yang sebenarnya sudah sekian lama menunggu untuk dimanfaatkan dan dikembangkan.
Melihat kenyataan tersebut, maka bukan hal yang berlebihan bila pihak-pihak yang memiliki kepentingan ekonomi dan politik kemudian melirik kawasan Mandar sebagai sasaran operasi baru. Bila kekhawatiran tersebut betul-betul terbukti, maka Propinsi baru yang sudah puluhan tahun diperjuangkan dan akhirnya menjadi kenyataan ini akan diperhadapkan pada beberapa pilihan.
Pertama, perjuangan yang telah mengorbankan banyak pihak baik itu secara finansial, tenaga ataupun secara moril akan menjadi ajang pembalasan jasa sebagai pamrih atas apa yang telah dikorbankan, cepat atau lambat. Hal yang menjadi hambatan disini adalah tidak adanya catatan otentik tentang jumlah pengorbanan secara riil serta identitas pihak-pihak yang telah berkorban tersebut.
Kedua, adanya kesepakatan dari semua pihak yang telah berjuang atau merasa berjuang dulu dan sekarang untuk mengikhlaskan perjuangan mereka tanpa mengharapkan balasan apapun. Meskipun sulit sekali, hal ini mungkin saja terjadi. Ketiga, perjuangan yang selama ini mengatasnamakan masyarakat/rakyat dikembalikan kepada masyarakat, sehingga baik dalam masa-masa sulit (misalnya dalam pengusahaan dana untuk perjuangan atau untuk membayar utang dari perjuangan) maupun dalam masa-masa senang nantinya, rakyatlah yang akan menentukan nasib mereka. Hal ini akan dilakukan dengan jalan memilih wakil-wakil mereka di legislatif maupun di pemerintahan secara langsung, jujur dan adil.
Ketiga altematif tersebut adalah pilihan-pilihan bagi kelangsungan perjuangan dengan mengingat bahwa terbentuknya propinsi Sulawesi Barat barulah salah satu tonggak awal dari perjuangan. Mungkin yang akan terjadi nanti tidak ada yang sesuai dengan tiga alternatif di atas. Bisa jadi pula, perpaduan di antara ketiga alternatif tersebut.
Dari uraian di atas, kita akan melihat apakah proses politik yang sekarang terjadi di Propinsi Sulawesi Barat hanyalah menjadi kuda tunggangan bagi satu atau beberapa orang/pihak tertentu untuk mencapai tujuannya masing-masing, ataukah perjuangan ini akan menjadi sebuah perahu yang akan mengantarkan seluruh rakyat -yang selalu diatasnamakan- menuju pulau harapan.
Sebuah perahu yang menghilangkan kemungkinan adanya pihakyang akan tiba lebih dahulu di tujuan atau ada rakyat yang tertinggal di belakang.
Namun, seperti layaknya sebuah perahu/kapal, mungkin akan ada yang berada di kelas utama, kelas wisata dan kelas ekonomi, namun hal itu tidak akan menjadi masalah karena perjuangan tersebut terbingkai dalam sebuah lingkaran yang lebih lebar.
Akhirnya, berbekal harapan dan keteguhan berjuang untuk kemaslahatan seluruh Tanah Mandar, semoga dengan tetap menjaga kebersamaan, perjuangan akan selamat sampai di tujuan.

posted by rhavii @ 5:00 AM 2 comments